‘Rumah Peti Mati’ di Hongkong

Beberapa hari yang lalu saya sedang santai membaca artikel berita online. Tiba-tiba muncullah sebuah artikel berjudul Tinggal di “Rumah Peti Mati” yang tanpa sadar membuat jempol saya bergerak dan mengekliknya.

klik disini untuk melihat video ‘rumah peti mati’

Dalam video itu tampak seorang pria tua sedang berada di dalam ruang sempit. Namanya Wong Ziwa dan sudah lebih dari 20 tahun ia tinggal dalam rumah sewaannya tersebut. Ya, ruang sempit itu adalah rumah. Itulah mengapa disebut ‘rumah peti mati’ karena ukurannya yang sempit dan hanya dapat memuat satu orang saja. Karena harga properti di Hongkong yang melonjak tinggi, banyak penduduk yang bernasib sama seperti Wong Ziwa.

Setelah melihat video tersebut seketika otak saya memutar kembali memori masa lalu. Waktu itu (saat masih sekolah) beberapa orang yang mengobrol dengan saya (di waktu terpisah) mengeluhkan bahwa mereka tidak memiliki apa-apa. Mereka mengaku sebagai orang miskin, sebagai orang tidak punya. Setelah mendengar keluhan itu saya korek seperti apa kondisi keluarga mereka. Dari hasil saya bertanya, diketahui bahwa mereka memiliki rumah yang saya kira-kira cukup luas karena mampu ditinggali 4 hingga 6 orang. Lalu mereka juga memiliki beberapa petak sawah dan hewan ternak (kambing, ayam). Saya tertegun. Kondisi seperti itu mereka katakan miskin. Lalu harus seperti apa mereka agar dapat dikatakan berkecukupan? Mereka punya rumah, sawah, hewan ternak, bisa makan tiga kali sehari, dan juga bisa bersekolah. Sedangkan di luar sana banyak orang yang mati-matian berjuang bahkan membuang harga diri mereka demi bisa makan. Masih ada anak usia SD yang tidak mampu sekolah karena waktunya dihabiskan dengan bekerja untuk membantu menghidupi keluarga. Orang-orang seperti Wong Ziwa hanya dapat hidup di rumah berukuran sempit, itupun hanya menyewa. Sedangkan mereka tinggal di rumah yang cukup untuk ditinggali beberapa orang dan rumah tersebut adalah milik sendiri.

Ya seperti itulah manusia-manusia yang tak pernah merasa cukup. Padahal bila kita mau merenung sejenak, kita akan menyadari bahwa kita masih lebih beruntung daripada manusia lain. Jangan selalu melihat ke atas tapi lihatlah ke bawah. Memang terdengar klise tapi kenyataannya masih banyak yang belum bisa melakukannya. Bahkan seorang peminta-minta masih lebih beruntung dari seorang fakir miskin yang sakit-sakitan. Dan seorang fakir miskin yang sakit-sakitan masih lebih beruntung dari orang mati yang tak lagi bernyawa.

Haha, sepertinya isi artikel ini sudah melenceng dari judul artikelnya sendiri. Intinya setelah melihat video itu saya hanya ingin menyampaikan bahwa jangan banyak mengeluh dan bersyukurlah dengan apa yang kita miliki. Yap, sekian 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s