Mari Berhitung: Berapa Penghasilan Tukang Parkir?

Terkadang hal ini menjadi bahan pembicaraan antara saya dengan keluarga yang biasanya dimulai oleh ayah. Tentunya bukan dalam konteks serius, hanya sebagai hiburan dan renungan. Dan saya yakin beberapa orang lain juga pernah memikirkan dan mencoba menerka-nerka berapa penghasilan seorang tukang parkir. Setelah coba menghitung ternyata hasil yang mereka dapat sangat lumayan atau bisa dikatakan luar biasa. Langsung saja mari kita hitung bersama.

Perlu diperhatikan, yang saya hitung disini hanya penghasilan tukang parkir motor saja. Untuk mobil silahkan dihitung sendiri. Pertama saya akan menghitung penghasilan dari tarif parkir Rp 1.500,-. Karena tarif parkir motor ada yang mematok tarif Rp 1.500,- dan ada yang Rp 2.000,-. Anggaplah dalam sehari terdapat 50 orang yang parkir. Maka…

Rp 1.500,- x 50 = Rp 75.000,-

Lalu, bila dikalikan sebulan (30 hari)…

Rp 75.000,- x 30 = Rp 2.250.000,-

Sekarang mari kita hitung penghasilan dari tarif parkir Rp 2.000,-.

Rp 2.000,- x 50 x 30 = Rp 3.000.000,-

Entah bagaimana menurut orang lain, tapi bagi saya angka ini cukup fantastis. Mengingat: 1) mereka tidak perlu modal menyiapkan lahan parkir (hanya memanfaatkan lahan yang ada seperti pelataran toko, warung, dll); 2) tidak memerlukan latar pendidikan tertentu (sampai saat ini saya belum menemui adanya tukang parkir yang harus lulusan sarjana, SMA, SMP, atau SD); 3) tidak memerlukan kemampuan yang sulit (yang penting memiliki fisik dan stamina yang cukup). Menurut penghitungan di atas, dapat dilihat penghasilan mereka sama  atau bahkan melebihi orang-orang lulusan SMA/SMK yang gajinya berkisar Rp 1 jt – Rp 2,5 jt (maaf info gaji ini saya dapat dari salah satu thread di kas**s). Satu kata yang ingin saya ucap. Wow.

Bagi saya sendiri keberadaan sang tukang parkir ini ada manfaat maupun kerugiannya. Saya merasa sangat terbantu ketika tempat yang saya datangi banyak pengunjung dan tentunya dengan itu banyak yang parkir seperti pasar, bank, dll. Yang tidak saya sukai ketika mereka berada di tempat-tempat yang sebenarnya tidak terlalu membutuhkan tukang parkir seperti warung, angkringan, burjo, tempat fotokopi dan print, alfa***t, indo***t. Waktu masih mahasiswa saya beli makan tiga kali sehari dan pernah juga lebih karena saya suka makan. Belum lagi kebutuhan mahasiswa yang banyak memfotokopi dan mengeprint tugas. Lalu sekali atau dua kali sehari pergi ke alfa***t/indo***t untuk sekedar beli minuman dingin maupun jajanan ringan. Anggaplah dalam sehari membayar 10 kali parkir dengan tarif antara Rp 1.500 – Rp 2.000. Maka dalam sehari saya harus membayar biaya parkir sebesar Rp 15.000 – Rp 20.000. Bagi saya yang waktu itu mengutamakan berhemat, uang tersebut sangat berharga. Saya bisa membeli nasi sayur sebanyak 3 porsi dengan jumlah tersebut, masih dapat es teh pula. Masih lumayan kalau sang tukang parkir benar-benar menjalankan tanggung jawabnya. Seringnya saya memakirkan sendiri motor saya. Dan setelah parkir saat harus masuk kembali dalam jalanan yang ramai saya berusaha masuk sendiri tanpa dibantu tukang parkir yang seharusnya mengamankan jalan untuk saya masuk kembali ke jalanan. Hmm -_- Yah saya yakin alasan-alasan saya tentang sang juru parkir ini sudah menjadi santapan sehari-hari kita semua.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s